Mengungsi ke Eropa

November 10, 2016 by dewi in Blog 109 comments
Mengungsi ke Eropa

Akhirnya aku memenuhi undangan paman Syria ke rumahnya. Bagi yang belum kenal, silahkan ke Sahabat dari Syria. Ketika sampai disana, Ibrahim yang berusia 6 tahun menyambutku di depan pintu. Dia tampak kegirangan. Saat itu hujan deras dan cuaca sangat dingin. Aku sodorkan es krim yang aku bawa untuknya. Ketika masuk ke dalam rumah, aku sudah mencium bau khas makanan Arab. Astaga naga, apa yang mereka lakukan. Kayak ada hajatan!. Aku kaget. Mereka bilang mereka sangat senang menyambut kedatanganku *kibas konde 😀 Tapi yang nggak gitu juga kalee, kayak mau ngasih makan 1 RT.

Nasi kuning Arab

Chicken Machboos

Chicken Machboos. Menu makanan khas Bahrain yang dikemas dengan rempah-rempah!

Sambil menunggu makanan matang, aku sengaja mengajak mereka bercerita tentang Syria. Disana Kristen dan Islam hidup berdampingan dengan baik. Ketika ada hari besar mereka saling membantu, contohnya untuk persiapan natal mereka ke gereja untuk mendekorasi, begitu juga sebaliknya. Mereka saling berkunjung untuk makan bersama. Sekarang itu tinggal kenangan. Mereka tidak punya rumah lagi, sudah dihancurkan oleh pemerintah tanpa mereka tahu alasannya apa. Diawal-awal terjadinya perang, mereka dilarang keluar rumah. Mereka ditahan selama 1 bulan di Dara. Pria bersenjata ada dimana mana. Tidak perduli siapa targetnya, mereka bisa saja jadi sasaran tembak. Untuk keperluan makan, perlu perjuangan berat, mereka harus sembunyi-sembunyi untuk bisa keluar. Semua toko terpaksa ditutup. Mereka harus berbelanja ke Damascus bahkan ke Yordania. Harga makanan yang melambung tinggi memberikan stress yang tak berkesudahan. Suara tembakan dan dentuman bom harus mereka dengar setiap hari. Ketakutan mulai meracuni jiwa dan pikiran. Beberapa teman dan keluarga dekat sudah tewas.

Ayah Bushra yang pertama kali mengungsi ke Denmark. Dia berlayar menyusuri Mesir dan berlabuh di Italia, kemudian melanjutkan perjalanan ke Denmark. Perjuangan berat dan panjang membuahkan hasil. Setelah setahun tinggal di Denmark, akhirnya pengajuan untuk mengundang keluarga mendapat persetujuan dari imigrasi. Akhirnya ibu Bushra, beserta 3 orang adiknya diterbangkan dari Oman ke Turki dan lanjut ke Denmark, dengan segala biaya perjalanan ditanggung oleh Denmark. Dua kakak laki-laki Busra mengungsi ke Jerman dan Yordania. Yang di Jordania adalah tentara yang membela Syria, tapi terpaksa mengungsi kesana. Shifaa berharap mereka bisa mengungsi ke Eropa, tapi karena tidak punya passport, mereka tidak bisa kemana-mana. Mereka takut sekali kalau polisi Yordania akan menangkap dan mengirim mereka kembali ke Syria.

Arabic salad: potongan tomat, seledri, minyak olive dan biji bunga matahari

Arabic salad: potongan tomat, seledri, minyak olive dan biji bunga matahari

 

Sekarang Denmark menjadi tempat berteduh bagi keluarga ini. Tinggal di rumah dengan fasilitas lengkap merupakan kejutan yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Aku cukup tercengang dengan fasilitas yang diberikan kepada mereka. Rumah fully furnished dan kitchen set disediakan. Menyewa rumah dengan 4 kamar tidur di Denmark ini sangat mahal. Uang bantuan bulanan yang diberikan juga sangat cukup buat kebutuhan sehari-hari mereka, bahkan setiap anggota keluarga memiliki HP Android keluaran terbaru.

Ketika aku dan Shifaa asyik bercerita, tiba-tiba si paman datang menginterupsi, dia mengeluh tentang ini dan itu. Sesekali dia minta Shifaa membantunya menterjemahkan kepadaku. Beberapa kali dia membalas Shifaa dengan nada suara yang tinggi. Bahkan ketika Bushra menambahkan sesuatu, dia membentak. Bushra terdiam dan segera menyibukkan diri dengan memeriksa ayam di oven. Aku sangat tidak suka nada bicaranya. Banyak pertanyaanku yang Shifaa dan Bushra enggan untuk menjawab, karena sering kali ayah mereka memotong pembicaraan kami dan mengatakan sesuatu dalam bahasa mereka sehingga aku tidak mengerti. Ah suasana menjadi tidak nyaman bila si paman ikut nimbrung. Beda dengan si tante. Karakter yang lembut tampak terlihat dari tatapan matanya. Sesekali dia memujiku. Pujiannya yang sangat dalam adalah ketika dia bilang, kalau aku memiliki mata yang indah dan tutur kata yang manis. Ah tante, kau belum tau kalau boru Batak merepet! 😀

Nama makanan ini Malfouf (memakai daun kol) & Warak enab mehsh (memakai daun anggur) yang diisi dengan daging dan nasi. Dikita lemper :D

Nama makanan ini- gambar kiri-Warak enab mehsh (memakai daun anggur) – kayak lemper ya  😀 & yang kanan namanya Malfouf (memakai daun kol) yang diisi dengan irisan daging dan nasi

Makan siangpun tiba. Semua makan dengan lahap. Tak lama, ada tamu yang mengetuk pintu ketika kami sedang bersantap. Bushra dan Shifaa kedatangan tamu, perempuan Denmark, mereka memperkenalkan diri sebagai Saksi Yehuwa. Akhirnya mereka ikut bergabung menyantap masakan si tante. Setelah makan, paman bercerita atau lebih tepatnya menggerutu kalau dia harus segera mencari pekerjaan. Aku pikir tak ada yang salah dengan itu. Dia mengeluhkan kalau uang bantuan akan dikurangi, dan mereka harus segera mensupport keluarga mereka sendiri, dan ini mendesak dia harus segera mencari pekerjaan.

Ini porsi yang diberikan si tante. Porsi supir ini mah taaan !

Ini porsi yang diberikan si tante. Porsi supir ini mah taaan !

Mereka bertiga masih single ;)

Mereka bertiga masih single 😉 Ihiiir

Tepat tadi sore aku bertemu dengan si paman di kota, setelah kunjungan ke rumahnya beberapa hari yang lalu dan dia mengeluhkan kalau protes mereka di kantor Pemda tidak diterima. Pemerintah tetap akan mengurangi uang bantuan. Sudahlah paman, I wish you luck! Semoga cepat dapat kerja ya 🙂

109 comments on this post

  1. Dee
    November 10, 2016

    Waaaaaah makan makan makaaan,, nongol kok ciin gambarnyaa.. kereeen

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Makanannya–ajiib..maknyooosss….

      Reply
  2. Salma Saputra
    November 10, 2016

    Kurang panjang mb Dewi ceritanya 🙂 kupikir mereka tinggal di tenda2. Suamiku pernah ke pengungsian Syria di Turki mbak dan pada tinggal di barak gitu.

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Si Paman yang begitu mbak Salma sebelum dia sampai ke Denmark. Yang lain masih di pengungsian Di Syria menunggu. Soalnya mereka banyak, 9 orang.

      Reply
  3. Ferna Anindhita
    November 10, 2016

    Salah fokus sama makanan2nya. Mendadak laper. Hehehhhe

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Samaaaa…terasa banget bumbunya..baunya..duuh asli enak banget 😀

      Reply
  4. Henny Susanti
    November 10, 2016

    Ini fotonya yg bagus atau cara penyajian makanannya memang cantik, kak?
    Si tante bisa buka resto lhooo pdhal

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Yang melihat photonya sih Hen kuncinya 😛
      Sudah banyak yang nyaranin si tante buka warung…belum urus surat2nya ke kantor Pemda..Soal rasa..ajib enak bangeet..

      Reply
      • Henny Susanti
        November 10, 2016

        Kl bisa buka usaha sendiri, kegalauan si paman kan bs berakhir tuh hihihii

        Reply
        • dewi
          November 10, 2016

          Hi hi hi…aneh aja ya dia galau gtu

  5. Riana Umasita
    November 10, 2016

    Di Denmark berarti lbh memanusiakan pengungsi ya, mbak. Salut dehh

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Iya mbak Riana..disini rasa kemanusiannya tinggi banget…

      Reply
  6. rita asmaraningsih
    November 10, 2016

    Tean dari Syria-nya cantik2 ya Mba.. kalo di negeri kita bisa jadi artis tuh wajah cantik kayak gitu..

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Embeer..bersih bersih lagi kulitnya mbak Rit….cantik banget memang..

      Reply
  7. LIA
    November 10, 2016

    Endessss betulll (gambar) masakannya si tante… #ngelapences.. hehe.. terharu membaca perjuangan mereka sampai ke denmark. Semoga negara qt tetap aman damai… karena sebenarnya nikmat itu bukan hanya punya harta berlimpah, dunia dan segala isinya…. tapi kesehatan dan kedamaian juga nikmat. Dan itu yg justru sering qt lupakan.

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Ih bijak banget siih 🙂 tapi betul say, kita suka lupa bersyukur. Masih ada orang yang jauh lebih susah hidupnya dibandingkan kita. Duuh jangan sampai lah negara kita jadi negara konflik. Mau ngungsi kemana kita…

      Reply
  8. Emak Pelancong
    November 10, 2016

    Malam2 ngeliat foto2 di sini, mendadak perut keriuk2 lagi… 🙂 Aduhhh, Si Bapak, mau enaknya doang. Moga segera dapet kerja, yah. Ada pelarian politik juga di tempat kerja suamiku, kerjanya nggerutu muluk. Padahal dah dikasih fasilitas macem2 ama pemerintah. Emang tipe orangnya gitu kali, yah… 🙂

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Betul maak…disuruh mandiri kok malah ngedumel ya..Mereka pada demo loh ke kantor pemda..duuuh..pusing deh…Anak2nya si paman aja semangat buat sekolah biar bisa jadi orang berguna satu hari nanti..

      Reply
  9. sarah
    November 10, 2016

    Ngiler aku liat photo masakannya. Berasnya pake beras yang panjang2 itu ya? Kayaknya nasinya agak panjang dari normal ( beras Indonesia dan AsTeng pada umumnya). Saladnya pake biji matahari..? Wah, salut sama ibunya telaten bukain kulit biji matahari. Disini sih biasa buat ganjelan, capek buang kulitnya, tapi ya enak makannya. Btw, aku setuju dengan pendapat mbak Henny Susanti mereka kan bisa buka usaha tempat makan. Nggak perlu besar dulu kayak resto dan sejenisnya lah. Mungkin model kayak PKL dulu aja, modalnya kan nggak besar. Atau Kalo pamannya kuat jalan jalan bisa menawarkan ke kantor2, sekolah atau pasar. Good luck untuk si Paman, rezeki bisa darimana saja.

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Beras Basmati mbak Sarah namanya..jenisnya langsing langsing gitu…mereka suka tipe beras kayak gini daripada beras Jasmine..yang modelnya lengket gitu..SI tante rajin bangett..baik hati juga..itu biji matahari udah ada yg dikupas dijual mbak..:) jadi ringkes..
      Iya sih aku juga dah bilang gitu ke si tante..coba tanya ke kantor pemda gimana ngurus surat ijinnya..disini hrs urus ijin dulu mbak…baru bisa buka…

      Reply
  10. angkisland
    November 10, 2016

    nge blog bisa bawa hati sampe luar negeri juga yah… semoga segera bekerja salam kenal… itu keliatannya enak sekali… nikmat yang tidak boleh terdusta dah…. semoga mbak” yg lainnya juga ketularan berhijab… ^-^ wah perjuangan yang berat yah… semoga tidak ada konflik yang sebabkan perang makin berlarut deh.. hidup bentar semoga banyakin amal ibadah saja… aamiin wah mbaknya”nya masih singleee ihieerrr monggo para pahlaan penjemput bidadari hehe haseehh pizzzz…. oia penasaran dengan cara berlayar pamannya… asyik juga yah bisa naik kapal sendiri wah rasanya jadi pengen naik kapal mengarungi samudera kayak nenek moyang….

    Reply
    • dewi
      November 10, 2016

      Salam kenal mas…benar..damai itu indah ya mas..pusing dengan konflik yang ujung-ujungnya ngerugiin kita sendiri juga…Paman berlayar dengan kapal kecil, dalamnya ada ratusan orang..itu juga diseleksi ketat siapa yang boleh berlayar lebih dulu …

      Reply
      • angkisland
        November 10, 2016

        wah rumit juga ya mbak… bener” itu iman yg pada udah pernah ngerasain empet”an naik kapal gituan sama yg masih nyaman” nyeduh kopi gini beda dah.. aamiin mbak semoga kita terus dalam kedamaian…. dan moga sebelum umur kita dunia masih saja damai… aamiinn… ngeri juga kalo masih hidup tapi dunia udah konflik” gitu yah,,, mantap dah iman pamannya mbak…. semoga berkah terus mbak di sana….

        Reply
        • dewi
          November 11, 2016

          Amiiin…makasih mas 🙂 Mas juga ya..take care 🙂

  11. dwi sari
    November 10, 2016

    Woooow, salut banget dengan pemerintah Denmark, sebegitunya ya memanusiakan para pengungsi. Semoga Paman segera mendapatkan pekerjaan ^^

    *salam kenal Mbak …

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Salam kenal mbak Dwi…cakep banget PP nya 🙂 nama Dwi, Dewi gitu yaaa cakep cakeeep 😛
      Iya mbak, negara negara Scandinavia terutama, selain Denmar, Swedia dan Norway juga bagus sekali memperlakukan pengungsi. Contoh buat negara kita, jangan ada konflik, damai itu indah 🙂

      Reply
  12. Ivonie
    November 11, 2016

    Masakan si tante menggoda bnget tuh mbk. Pagi2 jd penasaran sama nasi arab nya hehe
    Cantik-cantik ceweknya ya hehe

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Nasi arabnya sekilas kayak nasi kuning yaa..terasa banget macem macem rempahnya…enaak banget mbak Von..

      Reply
  13. rita dewi
    November 11, 2016

    Duh nggak kebayang ya hidup di daerah konflik semoga kita semua selalu dalam lindunganNya.

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Amiiin..bener mbak…Susah ujung ujungnya…Ini pengungsi yang berhasil kesini..gimana dengan yg nggak bisa ngungsi ya…duuh kasihan…

      Reply
  14. herva yulyanti
    November 11, 2016

    Uenaknya itu makanannya, btw mba nasinya panjang2 y kayaknya pulen banget 🙂
    Syantieek2 y tiga daranya hehehehe

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Beras Basmati mbak namanya…mungkin di lidah kita lebih suka yang jenis Jasmine..Basmati emang favoritenya orang Arab disini mbak..dia nggak lengket sih…

      Reply
  15. Endah April
    November 11, 2016

    merinding bacanya, aku pembaca baru blog kak dewi, salam kenal 😀

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Salam kenal mbak Endah 🙂 Makasih udah bertandang ke rumahku ya 😉

      Reply
  16. agnesiarezita
    November 11, 2016

    Judulnyaaa .__. ke Eropa untuk ngunsi, aku jdi keteteran pengen baca 🙂 rupanya, iya sih “ngungsi”

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      😀 maksudmu opo toh mbak ?? kan emang iya mereka ngungsi..:D

      Reply
  17. Cindy Vania
    November 11, 2016

    Makanannya bikin ngileeer!
    Btw itu porsinya banyak amaat.. Habis nggak mba?

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Nggak mbak 😀 tapi mereka makannnya banyak banget..

      Reply
  18. Ratna Dewi
    November 11, 2016

    Wah beruntung sekali ya mereka diterima dengan baik di Denmark. Padahal banyak pengungsi yang bahkan tak sempat sampai daratan negara Eropa dan namanya hilang di lautan ketika mereka melarikan diri. Miris memang kalau dengar cerita tentang Syria dan pengungsinya.

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Ternyata kan mbak Ratna..mereka itu sampai gaduh gitu pas mau naik kapalnya..nggak gampang karena ada ribuan orang yang berlomba ikut mengungsi..

      Reply
  19. Yulia
    November 11, 2016

    Aku sedih bener kalo inget yang pada ngungsi gitu hiks, jadinya malu kalo pas lagi ngeluh. Apalagi waktu yang kapal pengungsi pada tenggelem T_T. Keren juga ya pemerintah Denmark bersedia menampung, aku baru tahu kalau mereka welcome sama refugee.

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Iya mbak..tapi aku sedikit kesal juga lihat si paman, kurang bersyukur dianya..ngeluh mulu…beda sama anak2nya sama istrinya..mereka lebih humble…

      Reply
  20. Molly
    November 11, 2016

    Aku penasaran sama masakan2nya. Kayaknya endeus banget! Tapi porsinya ngga kuat yah, buanyak. Coba kalo mereka buka resto, laris deh keknya☺.

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      He he he..kakak..kau kayak nggak tau aja triknya kita..bawa bontot atuuh 😀 ha ha ha ha….

      Reply
  21. Ditaa
    November 11, 2016

    Wah nasi kuningnya nampak enyaaakk… #salfok
    Tapi emang ya mbak, yang model paman beginilah yang bikin imej pengungsi jadi jelek. Iya sih, mereka butuh bantuan, tapi kalo terus2an merongrong minta bantuan apalah itu namanya selain males.

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Iya bener mbak, itu yang jadi masalah sama orang lokal disini. Mereka nggak suka lihat pemalas. Nggak ada masalah sama mereka buat bantu pengungsi, tapi kalau liat pemalas siapapun pasti enek ya kan…dan banyak pula disini yang begitu..nggak mau sekolah bahasa, nggak mau cari kerja, kerjanya cuma nunggu uang bantuan saja..sama aja kayak benalu.

      Reply
  22. Fanny f nila
    November 11, 2016

    Jadi itu si paman ga mau kerja dan mau ttp dpt uang dr pemerintah doang gt mbak? Duileeeh udh mending dapat bantuan awal2 pertama gitu yaa. Masa ngarepin seumur idup sih :p. Enak banget kalo gt.. Coba kalo dia ngungsi ke amerika regime si trump ini :p. Diusir pulang kali

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Iya mbak..mereka demo loh ke kantor pemdanya..jadi bukan si paman saja.. 😀 aduuh cape deeh…kelaur dari zona perang aja aturannya sudah harus bersyukur ya..trus ini di kasih uang buat hidup sudah lebih dari 2 tahun..ya mosok mau free selama2nya…Orang lokal disini kerja keras , bayar pajak tinggi buat kasih bantuan ke mereka..ya siapa yang kesal lama lama liat orang pemalas.

      Reply
  23. morten nielsen
    November 11, 2016

    Looks like great food:)

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Thanks babe 😉

      Reply
  24. fiberti
    November 11, 2016

    hore bisa baca…ah, ini gagal fokus ke makanan…bumbu saladnya cuma olive oil dan biji bunga matahai begitu mba dew? moga-moga si paman segera dapat pekerjaan…supaya ngga ngomel2 terus…hehe…yang pada difoto nanti baca blog ini juga ngga? foto mereka cantik-cantik…

    Reply
    • dewi
      November 11, 2016

      Makasih banyak loh mbak Fiberti..:D bete banget dari tadi nungguin..mana lagi nulis 😀 ha ha ha..
      Bumbu saladnya itu aja kata si tante..simple banget..dikita nggak doyan ya..maunya ditumis 😀 baru ended….
      Mereka paling liat tapi ya nggak ngerti artinya…:D

      Reply
  25. Dina Safitri
    November 12, 2016

    Fasilitas untuk pengungsinya lengkap banget ya mbak, keren.hihi.. Btw makanan nya ajib banget mbak porsinya, jadi laper, haha

    Reply
    • dewi
      November 12, 2016

      Iya Din, pengungsi disini difasilitasi, dikasih uang dan sekolah gratis…

      Reply
  26. kristonny Panjaitan
    November 12, 2016

    Kalok boru batak merepet, sunge bah bolon pun bisa kering kan kak…… Ahahahahaha….

    Reply
    • dewi
      November 12, 2016

      😀 ha ha ha..pas mai hasian….sude i bar bar..

      Reply
  27. Yessi Greena
    November 12, 2016

    ayamnya itu menggoda kali lah…jadi pengen awak 😀

    Reply
    • dewi
      November 12, 2016

      Enak kali lah Yes..tapi pas disitu takut kelihatan rakusnya jadi dikit2 makanya nyesal sekarang 😀

      Reply
  28. monda
    November 12, 2016

    pantesan serasa mau pesta, satu orang aja porsinya segitu banyaknya…itu masih ada yang nambah nggak?
    btw, apa komentar Busra wajajhnya dua kali muncul di blog ini

    Reply
    • dewi
      November 12, 2016

      Mereka nambah Mon..aku nggak sanggup 😀 mana ada makanan penutup lagi..bah..macam betul aja lah..:D Si Bushra dah tau aku bakalan masukin, dia pasrah aja 😀

      Reply
  29. Lasma manullang
    November 12, 2016

    Semoga si paman segera dapat kerjaan. Mungkin dia kuatir cari kerja di negeri asing. Tapi minimal ada bantuan setengahnya lagi ya

    Reply
    • dewi
      November 12, 2016

      Iya .semoga cepat dapat kerja, Cari kerja di Denmark harus bisa menguasai bahasa Danish, makanya disekolahkan dan diharapkan sungguh sungguh belajarnya.. 🙂

      Reply
  30. Arni
    November 12, 2016

    Baca paragraf awal-awal bikin sedih, perang menghancurkan segalanya ya mbak. Mereka yang tidak tahu apa-apa jadi korban. Semoga tercipta perdamaian setelah ini. Semoga Indonesia juga aman dan damai selalu *usap muka*

    Btw itu makanan porsinya sadis
    Habis mbak?

    Reply
    • dewi
      November 13, 2016

      Iya mbak ..sedih sih kalau liat dikit2 di negara kita ribut….duuh damai damai ajalah….
      Nggak habis makanannya mbak…:D sesak kebanyakan 😀

      Reply
  31. Irly
    November 12, 2016

    Sebentar, setelah ngeces lihat gambar makanan itu saya ngakak baca porsi supir! Bener Mbak, porsi segitu saya bisa 4 -5 kali makan. LOL

    Semoga paman bisa dapat kerja yang sesuai ya.. Salut sama pemerintah di sana *terharu

    Reply
    • dewi
      November 13, 2016

      😀 iya..serem porsinya, nggak sanggup mbak ngabisin porsi segitu..

      Reply
  32. Ranny
    November 13, 2016

    Saya jadi ingat sama cerita teman yang di Eropa tentang pengungsi Syria. Jauh banget sama di Denmark ini yang diberikan fasilitas full. Sungguh beruntunglah mereka, dan ada baiknya memang harus cari kerja sih >.<
    Btw, foto-fotonya mouth watering banget mbaaak.. *comot satu heheheh

    Reply
    • dewi
      November 13, 2016

      Disini pengungsi diperlakukan baik banget mbak..tp ya itu pengungsi pula yang kadang buat ulah..suka nyuri ..toko teman sering kecolongan…

      Reply
  33. Oci YM
    November 13, 2016

    Waduh… lihat foto-foto masakannya, pengen langsung cuuuuus ke resto Arab, ngileeeer!.

    Tentang Syiria… ah… speechless… saya Mbak. Doa terbaik aja buat saudara-saudara di sana 🙂

    Reply
    • dewi
      November 13, 2016

      Iya mbak..kasihan yang masih hrs berjuang di daerah perang sana..

      Reply
  34. Andri Poernawan
    November 14, 2016

    Porsinya besar juga yaa.. apa bisa langsung habis itu?

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Nggak habis loh mas 😀 porsi supir 😀

      Reply
  35. Heni Prasetyorini
    November 14, 2016

    momen pas ibunya nuang makanan itu loh, good capture banget mbak

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Hi hi hi..makasih ya mbak sayang 😉

      Reply
  36. Haeriah
    November 14, 2016

    Panjangin lagi dong ceritanya…..Blognya asyik…bakalan sering2 ,mampir nih mba…

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Ntar ngantuk mbak kalau kepanjangan 😀

      Reply
  37. Sandra Buana Sari
    November 14, 2016

    Makanannya bikin ngileeer, itu rumahnya dikasih sama pemerintah Denmark Mba? Seneng ya bisa banyak temen dari berbagai negara, jadi lebih mengerti cerita tentang Syiria dari mereka langsung..

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Iya mbak..rumahnya disediain sama pemerintah. Dengar langsung dari mereka jadi ngerti masalah sebenarnya apa disana..pertikaian antar mereka awalnya..Makanya takut kalau negara kita konflik melulu…

      Reply
  38. Asriani Amir
    November 14, 2016

    sering penasaran sama makanan timur tengah, katanya banyakan bersantan yaks?

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Mereka nggak pake santan diacara kemaren mbak As..nggak tau yang lainnya ya…mereka banyak make bumbu2 yang di Indonesia kita nggak pernah pake..wangi makanan mereka…

      Reply
  39. helmavania
    November 14, 2016

    Seneng ihh baca cerita nya mba <3 , ngomong2 rasa nasi kuning Arab gimana ya? Kok penasaran banget abis liat foto2 nya. Enaaaak..

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Nasinya enaak banget mbak…kayak nasi goreng tapi ada rasa karinya…tp ini tidak mereka goreng…

      Reply
      • helmavania
        November 14, 2016

        Jadi makan penasaran mba. Hahaha. Apalagi porsi nya banyak 😛

        Reply
  40. omnduut
    November 14, 2016

    Yang kiri kiyut banget, salamin atuh mbak hahaha.

    Aiiih, pas banget lagi puasa lihat postingan ini. Nasi kuningnya sekilas kayak nasi biryani ya mbak. Trus itu ngelihat potongan ayam segede paha di oven pingin aku kuasai semua satu potong buat sendiri. Slruppp

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Duuh .maaf Har, kamu sedang puasa ya…semoga lancar ya Har….
      Ntar aku salamin, anaknya manis banget memang…situ dateng disuguhi makanan segambreng..mau nangis dia 😀 ha ha ha..takut nggak enak sama si tante…Tapi enak banget sih makanan si tante..mau lagi….:D

      Reply
  41. imeldasutarno
    November 14, 2016

    hahahah soal boru batak merepet aku ngakak bacanya. Eh nasi kuningnya nampak menggiurkan, rasanya gimana itu mbak?

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      😀 boru batak merepet, ngeri..sampe melayang emberr 😀
      Rasanya gimana ya..mirip kayak ada rasa rasa karinya dikit..banyak banget rempah2nya mbak Imel….

      Reply
  42. Pink Traveler
    November 14, 2016

    Makanannya enak banget, asli lg yg buat org Syria langsung. Wajar mbak si paman tampak emosional krn dia kepala keluarga dan menganggur jd bawaanya kayak mau marah saja. Salut sm Denmark yg notabene negara non muslim, pemimpinnya non muslim tp memperlakukan pengungsi muslim dgn manusiawi. Saya jd bertanya-tanya dgn para provokator termasuk pemuka agama di negeri sendiri sudahkah mereka merasakan jd minoritas? kenapa perbedaan agama jd masalah sementara di tempat lain ada yg membuka rumahnya dan memberi makanan utk orang yg beda agama

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Si paman ditawari jadi supir truk sama pemda mbak. Tapi si paman masih mikir-mikir 😀 ha ha ha…krik krik kriiiik….
      Ya gitu deh mbak tanah air kita…lebih tepatnya itu semua ditunggangi dengan kepentingan politik sih..trus agama dibawa bawa…padahal itu kan hal pribadi..

      Reply
  43. Dewi Adikara
    November 14, 2016

    mbak dewi… aku dah makan tp tetep aja jadi ngiler liat hasil fotonya… beras basmati ya? keras ga mbak teksturnya? ngiler sambil netes airmata baca cerita ttg perjuangannya mereka.. mg2 diberi kebahagian terus ya.. salam buat sahabat mba Dewi disana..

    Reply
    • dewi
      November 14, 2016

      Ha ha ha..sampe sekarang aku juga masih kebayang loh mbak sama rasanya…Betul sekali, ini beras basmati. Teksturnya agak sedikit keras dan kering…tapi dibuat kek gini enak..kalau cuma dimasak biasa, nggak enak mbak Dew…

      Reply
      • Dewi Adikara
        November 15, 2016

        mmg pinter ngolahnya ya mereka.. jd istimewah gitu.. nyum nyum..

        Reply
  44. MEI WULANDARI
    November 15, 2016

    Mb Dew… ngeri ya kalau negara ada konflik harus sampai ngungsi2 gt. Eh tapi kok pemerintah Denmark baik bgt ya bisa bantu sampai sewa rumah besar gt.

    Btw aku ngiler makanannya huaaa

    Reply
    • dewi
      November 15, 2016

      Ya begitulah mbak Mei..disini pemerintah dan masy nya toleran walaupun yg datang dari negara Arab.

      Reply
  45. Ria
    November 15, 2016

    mungkin si paman itu khawatir ya dengan usianya msh bisa dpt kerjaan atau enggak… mudah2an dia bisa mendapatkan sehingga bisa lebih tenang utk support keluarganya

    Reply
    • dewi
      November 15, 2016

      Udah ada tawaran jadi supir sih kak..Ntah kenapa dia masih bimbang…Ya nggak mungkin juga dia hanya duduk diam di rumah dan dapat uang bantuan selamanya. Bantuan itu juga kan dari orang Denmark yang kerja dan bayar pajak. Disini kt bayar pajak 48 % ..suami bayar 52%…

      Reply
  46. Yas Marina
    November 15, 2016

    Astagaaa…..kirain awalnya cerita novel

    Reply
    • dewi
      November 15, 2016

      Kisah nyata maak 😀

      Reply
  47. Jalan2Liburan
    November 16, 2016

    Dua mata koin yang kamu bahas disini ya Wi, kasihan karena mereka adalah korban, tp terlalu banyak menuntut. Issue yang sama juga dengan disini, bikin orang lokal jd ga respek.

    Reply
    • dewi
      November 16, 2016

      Betul mbak Feb 🙂 aku juga sangat hati hati menuliskan ini. Dan ini pure dari apa yang aku lihat dan dengar langsung dari mereka seperti apa kehidupan disana dan emang faktanya nggak seperti yang digembar gemborkan di tanah air.
      Ya semakin banyak pengungsi yang malas dan hanya mengharapkan uang bantuan dari pemerintah membuat orang lokal gerah. Karena mereka harus bekerja keras untuk membayar pajak yang tinggi. 🙂

      Reply
  48. indriyas
    November 19, 2016

    kalau melihat tampilan makanan timur tengah kok sangat menggoda ya, pasti banyak pakai rempah-rempahnya kayaknya. porsinya aku banget tuh hahaha

    Reply
    • dewi
      November 19, 2016

      selain menggoda, endes banget mbaak..penuh dengan rempah rempah Arab…

      Reply
  49. Yudi
    November 19, 2016

    Dibalik makanan yang nikmat selalu tersimpan cerita pilu. Pun.begitu dengan si Paman.bukankah perjuangan mencari kerja jauh lebih ringan dibandingkan dengan perjuangannya mengungsi dulu? ah sudahlah.. Yuks makan

    Reply
    • dewi
      November 20, 2016

      Ha ha ha..gitu deh Yud..mereka pada pake aksi demo loh nuntut uang jangan dikurangi 😀 duh cabee deh 😀

      Reply
  50. Gio | Disgiovery
    November 21, 2016

    Halo kak Dewi, ikut komen ya 🙂 Kisah yang menarik dan miris nih, meski foto2 makanannya mengundang lidah bergoyang, hehehe.

    Jadi teringat dengan nasib pengungsi Timur Tengah di kawasan Puncak-Bogor juga sedang resah karena uang tunjangan konon dihentikan sementara mereka harus menyambung hidup, tetapi kesulitan mendapat pekerjaan legal karena mereka tak punya status WNI. Sementara kalau ketahuan imigrasi bahwa mereka bekerja, maka akan dideportasi ke negara asal :/

    Reply
    • dewi
      November 21, 2016

      Hello Gio, makasih udah main kesini 🙂 Makanannya endes banget 🙂
      Iya ya, ternyata di Bogor banyak pengungsi ya..aku baru tau itu. Ya gitulah disini pengungsi dipelihara dengan baik bahkan kadang terlalu manja malahan.

      Reply
  51. Nathalia DP
    November 23, 2016

    Semoga cpt dpt kerja ya paman…
    Asyik bgt sajiannya, bikin ngiler…

    Reply
    • dewi
      November 27, 2016

      Sudah ada mbak…jadi supir truk..si paman masih galaw 😀

      Reply

Leave a Reply

Follow me on instagram

Back to Top
Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: